"Kenapa kamu tidak rogol saya?"

Mungkin anda pernah tahu, atau dengar atau terbaca kisah ini…

Kisah ini berlaku di US.
Kisah tentang seorang wanita dari Malaysia yang bekerja di US. Dia memakai pakaian yang menutup aurat dengan sempurna dan memiliki akhlak yang bagus.
Suatu malam muslimah ini dalam perjalanan balik ke rumah dari tempat kerjanya. Kebetulan dia mengambil jalan singkat untuk pulang. Jalan yang diambil pula agak tersorok dan tidak banyak orang yang lalu lalang pada masa itu.
Disebabkan hari yang agak sudah lewat, berjalan di jalan yang agak gelap sebegitu membuatkan dia agak gelisah dan rasa takut. Lebih-lebih lagi dia berjalan berseorangan.
Tiba-tiba dia nampak ada seorang lelaki (kulit putih Amerika) bersandar di dinding di tepi lorong itu. Dia sudah mula rasa takut dan tak sedap hati. Tiada apa yang boleh dilakukannya pada waktu itu melainkan berdoa kepada ALLAH memohon keselamatan atas dirinya. Dia membaca ayat Kursi dengan penuh pengharapan agar ALLAH membantu dia disaat itu.
Masa dia melepasi tempat lelaki itu bersandar, dia sempat menoleh dan dapat mengecam muka lelaki itu. Nasib baik lelaki itu buat tidak endah dan muslimah itu selamat sampai ke rumahnya.
Keesokkan paginya, wanita ini terbaca dalam akhbar yang seorang perempuan telah dirogol oleh seorang lelaki yang tidak dikenali dekat lorong yang dilaluinya semalam hanya beberapa minit selepas dia melintasi lorong tersebut. Muslimah ini yakin benar lelaki kulit putih yang dia lihat semalam adalah perogol tersebut.
Atas rasa tanggungjawab dia terus ke balai polis dan membuat aduan. Wanita ni dapat mengenalpasti suspek melalui kawad cam dan selepas siasatan dilakukan, polis dapat bukti bahawa lelaki tersebut adalah perogol yang dicari.
Namun muslimah itu sedikit hairan kenapa lelaki itu tak jadikan dia mangsa rogol ketika dia melalui lorong tersebut walhal dia keseorangan pada ketika itu, tetapi lelaki tadi merogol perempuan yang lalu selepasnya. Muslimah itu ingin tahu sebabnya. Dia meminta kebenaran polis untuk bercakap dengan perogol tersebut sebelum hukuman dijatuhkan (sebelum lelaki tadi di bawa ke tempat lain).
Dia pun bertanya perogol itu..
“Why don’t you do anything to me on that night even though you know that I’m alone?”
(Kenapa awak tak apa-apakan saya malam itu walaupun awak tahu saya seorang sahaja ketika itu?)
Perogol itu menjawab:
“No, you are not alone. That night I saw two young man walking with you. One on your right side and the other one was by your left side. If you were alone of course you will be mine”
(Tidak, awak bukan berseorangan. Malam itu saya nampak ada 2 orang lelaki berjalan dengan awak. Seorang sebelah kanan awak dan seorang lagi sebelah kiri awak. Kalaulah awak berseorangan pada malam itu, sudah pasti awak jadi kepunyaan (mangsa) saya..)
Muslimah tersebut rasa amat terkejut apabila mendengar penjelasan perogol tu. Dia bersyukur ke hadrat ALLAH kerana memelihara dia malam itu, mungkin juga berkat ayat Kursi yang dia baca malam itu.
p/s:
1) Tutuplah aurat dengan sempurna, ALLAH akan melindungi kamu.
2) Sentiasalah memohon perlindungan ALLAH walau di mana sahaja kita berada.
Sekian
Advertisements

Kisah Yahudi US, Pindah ke Israel dan Masuk Islam

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza pada tahun 2005).
Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah ia bertemu dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan syaikh tersebut lewat internet. Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.
Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi, meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam.
“Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas ke-Yahudi-annya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar,” tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.
Ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah saw yang kemudian diteruskan oleh para sahabat-sahabat dan penerusnya hingga sekarang.
“Cara yang paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan yang membedakan antara umat manusia adalah ketaqwaannya pada Allah semata,” ujar Yousef.
“Islam bukan agama yang rasis. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah saw. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir. Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemungkaran dan menyebarkan ideologi Barat di negara kita, misalnya ideologi demokrasi,” sambung Yousef.
Ia mengatakan bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. Orang-orang Yahudi berdoa lewat perantaraan rabbi-rabbi mereka.
“Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada al-Quran dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah, di semua masjid di seluruh dunia al-Quran yang kita dengarkan adalah al-Quran yang sama,” ujar Yousef.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Yahudisme di sisi lain berpatokan pada “tradisi oral” misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui, bisa saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut bisa dipertanyakan.
Yousef mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. “Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah, di mana banyak orang yang bisa menghapal al-Quran dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan al-Quran,” tukas Yousef. Meski demikian, ia meyakini dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama di kalangan Yahudi.
Ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. Yousef menjawab bahwa secara pribadi maupun dari sisi religius, ia tidak percaya dengan Yahudi-Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. “Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka,” paparnya.
Yousef menegaskan bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas nama seorang Muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. “Allah Maha Tahu,” tandasnya.
Sebagai orang yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, Yousef mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Muslim Palestina. Yousef sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk perlakuan tentara-tentara Zionis itu pada warga Palestina.
“Saya masih beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seberat penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada dibawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo),” imbuhnya dengan rasa syukur.
Allah memberikan hidayah pada umatnya, kadang dengan cara yang tak terduga. Seperti yang dialami Cohen atau Yousef yang justru masuk Islam setelah pindah ke wilayah pendudukan Israel di Gaza. (ln/readingislam)
Sumber: Era Muslim

Bila jundi pakat-pakat nak jadi pemikir….

Berserabut mungkin jadinya, kalau aktivis pakat-pakat nak jadi pemikir. Jundi pakat-pakat mahu berlagak tunjuk hebat berfikir. Maka berserabutlah jadinya halatuju sebuah organisasi. Pemikir yang ada jadi pening. Konflik terjelma. Kerja-kerja aktivis dan jundi terabai dan tergendala. Sebab itulah diperkenalkan konsep wala’. Bukan untuk disalah-guna pimpinan, bukan pula untuk disalah-tafsir pendokong. Masing-masing perlu faham.
Apabila berlaku pertembungan antara yang faham dengan yang tidak faham, berlakulah konflik. Yang tidak faham akan terus membantai. Yang faham pula tidak rela ego ‘faham’ mereka direntap… maka terjadilah konflik dek kerana masing-masing tidak meletakkan Islam sebagai keutamaan, sekalipun kononnya berjuang untuk Islam. Bila nak selesai? Mari kita baca anologi yang dibuat Naib Presiden Parti Islam ini – Aneroid09

Ada satu cerita rakyat zaman dahulu kala, dalam nada simbolik membawa kisah bagaimana perkakas dalam sebuah rumah saling melihat bebanan yang ditanggung olehnya, dan merasakan bahawa yang lain tidak seteruknya. Kisah bermula bilamana atap merasa dialah yang paling berat menanggung bebanan berbanding yang lain, dia terpaksa menahan hujan, panas, dia terpaksa berjemur ditengah-tengah panas, peritnya tak terkira, demikian juga bila hujan turun, dialah yang terpaksa berhadapan dengan hujan rebut ini. Perasaan kecewa dan sedih bertambah bilamana atap tengok tiang yang dirasakan lebih rehat dari dia, tak kena panas dan tak kena hujan, lalu ia merungut:
“Sedapnya jadi tiang, tak kena jemur di terik panas mentari, dan tak payah susah payah menahan hujan ribut, alangkah seronoknya kalau boleh jadi tiang”.
Mendengarkan kata-kata atap, lalu tiang menjawab:
“Kamu tak tahu betapa setiap saat aku terpaksa memikul bebanan beratnya atap, kayu alang dan kayu lain yang berat di atas bahu aku. Engkau atap, lebih senang, tak payah pikul bebanan berat macam aku,” rungut tiang.
Kata tiang terkadang aku cemburu tengok dinding, dia tak kena panas, dan tak kena pikul bebanan berat macam kita. Sedang mereka berbual, rupanya dinding mendengar, lalu menyampuk:
“Jangan kamu fikir yang panas dan berat saja. Aku lagi susah, nak kena jaga keliling rumah ni, aku kena lindung semua isi rumah, akulah benteng menutupi aib dalam rumah, akulah penyimpan rahsia mereka, tapi aku jugak kena ketuk bilamana nak tampal, nak sangkut apa-apa. Sebenarnya aku rasa yang senang, bukan aku, tapi tangga.”
Mendengar kata-kata dinding itu, tiba-tiba tangga pun mengeluh:
“Kamu jangan tengok hujan panas, bebanan saja. Tapi aku rasa aku nilah yang paling berat antara semua perkakas rumah ni. Aku terpaksa kena hujan panas, aku terpaksa pikul babanan orang pijak aku bila nak naik, bila nak turun, dan lebih malang lagi mereka pijak aku dengan kekotoran yang mereka bawa. Tapi bagi aku kalau ini yang telah ditakdirkan aku redha, biarlah aku berkhidmat semampu aku, sebelum semua kita rebah menyembah bumi semuanya.”
Pengajaran dari kisah tersebut ialah jangan kita hanya nampak susah kita, tapi tak pernah fikir susah orang lain, dan yang lebih penting jangan kita nak jadi benda lain. Kita harus jadi kita, kerana itulah amanah yang diberi kepada kita. Payahnya bilamana atap nak jadi tiang, tiang pulak nak jadi dinding dan dinding pulak nak jadi tangga.


p/s: dah tiang takleh jadi dinding, dinding takleh jadi atap… jangan pulak pakat-pakat jadi tunggul… 😀

Sembang: Cerita rekaan lagi…

Mereka-reka cerita lagi…
Cerita 5
“Abang, tolong jelaskan sikit maksud syirik. Kenapa syirik itu dikatakan sebesar-besar kezaliman?” Rafidah bertanya kepada abangnya, Najmi mengenai sepotong ayat dari surah Luqman yang sedang diulangkajinya. Esok Rafidah akan mula menduduki peperiksaan akhir tahun.
Najmi mengambil buku nota Rafidah dan meneliti persoalan yang ditanya adik bongsunya itu. Najmi cuba mencari penerangan yang sesuai untuk memahamkan adiknya itu. Walaupun Najmi lulusan bidang kejuruteraan di sebuah IPT, dia sedikit sebanyak boleh membantu pelajaran adiknya yang sedang menuntut di sebuah sekolah agama.
“Apa maksud syirik yang adik faham?” Najmi menjawab persoalan adiknya dengan persoalan juga.
“Menduakan ALLAH, kan?” Rafidah menjawab spontan.
“Bagaimana keadaannya menduakan ALLAH? Boleh Adik bagi contoh?” Najmi menguji kefahaman adiknya.
“Menyembah selain dari ALLAH” jawapan mudah dari Rafidah membuatkan Najmi tersenyum.
“lagi?” Najmi terus bertanya. Rafidah menggeleng kepalanya tanda tidak tahu.
“Baiklah. Jika seseorang itu berjaya dalam peperiksaan, dia tahu ALLAH yang beri kejayaan kepadanya. Akan tetapi dia juga beranggapan bahawa penggunaan pensil Steadler 2B membantunya berjaya, syirik atau tidak?” Najmi memberi contoh supaya adiknya berfikir.
“Contoh lain?” Rafidah mahu contoh lebih mudah.
“Kalau seseorang itu sakit, dia yakin ubat panadollah yang dapat menyembuhkannya, syirik atau tidak?”
“Itu asbab kan? kalau iktiqadnya panadol yang menyembuhkan, syirik lah”
“Haa.. pandai pun adik abang. Menduakan ALLAH dalam contoh itu adalah menganggap panadol juga berkuasa menyembuhkan, padahal panadol tidak ada apa-apa manfaat tanpa izin ALLAH” terang Najmi panjang lebar.
“Kenapa tersangat zalim kesalahan syirik itu?” tanya Rafidah.
“zalim kepada diri sendiri, kerana dosa syirik adalah dosa yang paling besar dan tidak sekali-kali diampun oleh ALLAH” jawab Najmi. Rafidah meneliti semula ayat yang tercatat dalam buku notanya itu.
“Kalau seseorang itu percaya bahawa hanya kerajaan BN sahaja yang mampu memberikan keamanan, kemajuan, syirikkah seseorang itu?” Najmi menimbulkan satu persoalan kepada adiknya yang sedang mencatat sesuatu pada notanya.
Rafidah memandang Najmi yang sedang tersenyum.
“Abang ni, kalau bagi contoh apa-apa, mesti ada masuk bab politik…” ujar Rafidah seolah-olah tidak berapa suka dengan politik. Biasalah, budak tingkatan satu-dua macam tu. Fikir Najmi. Tapi kenapa adiknya tidak suka dengan politik? Apa doktrin sekolah agama yang baru bertukar kepada sekolah bantuan kerajaan itu kepada para pelajar?
Najmi bangun beredar membiarkan adiknya terus mengulang kaji…
Cerita 6
“adik, jom tolong abah menebas rumput kat luar” Halim mengajak adiknya Ramzi yang sedang leka dengan laptop barunya.
“abang pergi lah dulu…” ujar Ramzi acuh tak acuh. Macam biasa, Ramzi bukan tidak mahu tolong abah. Kalau abahnya suruh, dia takkan berlengah-lengah. Jika tidak, dia tidak ringan tulang untuk membantu.
“jom… takkan nak biar ayah menebas sorang-sorang” ujar Halim terus keluar rumah membantu abahnya.
Halim membantu kerja-kerja membersih kawasan rumah mereka. Halim juga sebenarnya bukanlah rajin sangat dengan kerja-kerja menebas rumput. Cuma dia tidak senang duduk jika membiarkan abahnya melakukan kerja-kerja begitu seorang diri.
Sebentar kemudian Ramzi keluar membantu.
“Haaa… macam tu la. Mari sapu dan longgokkan rumput yang sudah dipotong ke sana” Halim mengarah adiknya. Ramzi melakukan kerja seperti yang diarah.
“Emm… bukan ke abang ni malas dengan kerja-kerja begini? Kenapa tunjuk rajin?” Ramzi seperti biasa suka menyakat abang dan adik-adiknya yang lain.
“Adik… sebagai anak yang baik, kita kena tolong emak dan abah, samada disuruh atau pun tidak. Bukan nak tunjuk rajin. Lagipun, tunjuk rajin lagi bagus dari tunjuk malas, kan?” ujar Halim.
“hehe…”
“bagi abang, abang akan tolong emak dan abah semampu abang. Abang nak jadi anak yang soleh kepada emak dan abah. Jika abang mati dulu, tentu emak dan abah akan sentiasa ingatkan abang. Hehe. Kalau emak dan abah pula meninggal dunia dulu, abang dah berbakti kepada emak dan abah walaupun tak dapat menandingi jasa emak dan abah. Paling penting, setiap amalan kita membantu emak dan abah akan diberi ganjaran besar di sisi ALLAH…” panjang lebar Halim berkhutbah kepada adiknya.
Ramzi mengangguk faham maksud khutbah abangnya itu…
Cerita 7
Hujan turun begitu lebat sekali. Sudah hampir dua bulan hujan tidak turun. Tengah hari ini hujan tiba-tiba turun dengan lebat membasahi bumi yang kering-kontang.
“Aduh… kenapa hari ni tiba-tiba je hujan…” rungut Akilah cemas. Bajunya yang hampir kering di ampaian basah semuanya.
Fatimah melihat keadaan housematenya yang cemas semacam saja.
“kenapa Akilah?” tanya Fatimah.
“tengok tu… habis baju basah. Macamana nak pergi camping kejap lagi… hari-hari lain tak hujan, hari ni juga hujan turun..” Akilah cemas dan agak marah kerana dialah yang mengurus camping anjuran persatuannya. Apa akan terjadi dengan camping yang dirancang berminggu-minggu tidak dapat disertainya kerana ketiadaan pakaian. Semua bajunya dibasuh untuk camping seminggu di Genting Highland.
“Sabar, Akilah… mungkin ada hikmahnya ALLAH turunkan hujan tiba-tiba hari ini…”
“Sabar apa? adilkah ALLAH buat aku begini?” tiba-tiba terpacul kata-kata yang mengejutkan Fatimah.
“Akilah?! Sedar tak apa yang Akilah sebut tadi?” Fatimah merenung Akilah.
“Kalau ALLAH itu adil, kenapa dia menyusahkan kita dengan hujan? ALLAH tak sayang kepada kita kah?” Akilah semakin tidak memikirkan kata-katanya. Dia sangat marah sekali.
“Akilah… ALLAH itu Maha Adil dan Maha Penyayang. Kita pun tidak tahu, mungkin ular, lipan, biawak, segala ulat, cacing, kutu, katak, dan macam-macam hidupan lagi dalam tanah berdoan mohon hujan kerana sudah lama tidak hujan. Semuanya makhluk ALLAH juga. Tidakkah ALLAH itu adil dan sayang kepada semua makhluknya?” Fatimah menenangkan Akilah. Akilah terdiam walaupun dia masih tidak berpuas hati. Hujan tetap tidak berhenti.
Malam itu, Akilah tidak dapat tidur lena. Rombongan camping sudahpun bertolak ke Genting Highland. Roziah menggantikan Akilah sebagai ketua rombongan. Akilah terpaksa melupakan camping ke Genting Highland.
Baru sahaja Akilah hendak melelapkan matanya, Fatimah tergesa-gesa mendapatkan Akilah.
“Akilah… aku dapat berita, bas yang bawa rombongan kawan-kawan kita ke Genting terbabas dan terjatuh gaung…” Fatimah menunjukkan SMS yang diterimanya.
Akilah tergamam. Air matanya mengalir. Tanpa disedarinya, lidahnya mengungkap kata-kata “Engkau Maha Adil dan Maha Penyayang ya ALLAH….”
=============================================================
p/s: Cerita-cerita di atas tiada kena mengena dengan yang hidup atau yang dah mati. Mungkin akan menjadi kena mengena kepada yang mahu menganggap ia ada kena mengena…

Sembang: Mai singgah baca cerita-cerita ni sikit…


Cerita di bawah adalah rekaan. Ada pula yang diadaptasi dari peristiwa sebenar dan ditokok tambah sedikit. Secara amnya, bacalah cerita-cerita di bawah dengan anggapan bahawa semuanya adalah rekaan.
Cerita 1
Suasana sedikit bising selepas selesai kuliyah sesi pertama kembali senyap. Semua mata menumpu ke arah seorang lelaki tua berserban putih, bertongkat dan diiringai beberapa lelaki menuju ke pentas yang disediakan. Tidak kira tua, muda, lelaki, perempuan, Muslim serta non-Muslim yang hadir, semuanya senyap sebagai tanda hormat kepada lelaki tua itu. Hadiri yang berada jauh di belakang cuba berdiri untuk turut melihatnya.
“ayah, mana tok guru? nak tengok tok guru…” seorang anak kecil bersuara memecah kesunyian. Beberapa pasang mata memandang anak kecil itu.
“syy… diam. Tok guru dah sampai tu” si ayah menunjukkan anaknya akan kelibat lelaki tua tersebut. Si ayah sedikit marah kepada anaknya yang membuat bising.
“Tak mengapa saudara. Biarlah anak kecil saudara begitu. Itu petanda baik” ujar seorang lelaki lain yang berada bersebelahan si ayah.
“Petanda baik?” si ayah ingin tahu.
“Ya… bukankah baik anak sekecil ini berminat untuk mengenali seorang ulama hebat seperti tok guru, daripada kebanyakan anak-anak muda yang menjadi taksub kepada artis-artis yang rosak akhlak?” jawab lelaki tersebut.
Si ayah mengangguk setuju, lalu mendukung anaknya sambil menunjuk ke arah Tuan Guru Menteri Besar sedang memulakan kuliyah mingguan pagi Jumaat hari itu.
Cerita 2
“Hang buat apa la ni?” tanya Pak Ngah Dali.
“Sambung master”
“Haa baguih laa. Engineering tu payah, hang sambung master, ok laa. Mengaji la selagi bulih. Nanti senang” sambung Pak Ngah Dali.
Hakimi tersenyum saja melihat Pak Ngah Dali.
“Bukan ka hang dulu sekolah arab ka? macamana bulih masuk engineering?” tanya Pak Ngah Dali. Pada fikirannya, pelajar sekolah arab atau sekolah agama, laluannya akan ke arah menjadi ustaz, tok lebai, paling tinggi tok qadhi.
“dia kat sekolah dulu ada aliran sains. Belajar agama, belajar sains… dekat-dekat 20 subjek belajaq” bapa Hakimi yang turut mengikuti perbualan mereka mencelah.
“boleh ka catch up? sakit kepala budak-budak. Susah nak cemerlang kalau tak tumpu akademik..” Pak Ngah Dali macam tak berapa percaya. Dia tidak pernah terdedah dengan pendidikan aliran agama.
“Laa… Pak Ngah tau tak pelajar cemerlang SPM peringkat nasional sapa dia?” ujar hakimi.
“Nurmadihah”
“dia pelajar sekolah arab Maahad Muhammadi Perempuan. dua tahun sebelum tu Siti fatimah, dari sekolah yang sama, juga terbaik nasional..”
Pak Ngah Dali terdiam.
“Pelajar Tahfiz Pulai Condong dapat 100% cemerlang dalam SPM” tambah bapa hakimi.
“Ish… depa bulih hafaz quran dan ambil SPM sekali gus?” Pak Ngah Dali sekali lagi tak percaya.
Hakimi dan bapanya tersenyum. Malam itu Kedua-dua beranak itu bagaikan bergabung membuka mata Pak Ngah Dali dan isterinya, Mak Ngah Rahah. Pak Ngah Dali seorang doktor, berpendidikan sekular. isterinya pun satu aliran.
“macamana depa mengaji? macam tak percaya. Budak-budak SBP pun tak boleh catch up kalau macam tu punya banyak subjek” ujar pak Ngah Dali. pak Ngah Dali sebelum ini tidak pernah memandang rendah pelajar SBP.
Hakimi melihat Pak Ngah Dali menghirup teh yang sudah mula sejuk.
“Ni lah keberkatan orang belajar agama. guru-guru sekolah agama pun ikhlas mendidik, bukan hanya mengajar…” bapa Hakimi
“Hm… ada betulnya… tapi kenapa hang tak pi sambung ke Mesir ka, Jordan ka… pasai apa pilih engineering?”
“Dulu saya ikut laluan matrik… so hala tujunya ke sinilah. Kalau saya ambil STAM, boleh la saya ke sana”
“No point la belajaq agama, sakit kepala, lepas tu masuk engineering…”
“sbb tu saya tak kata saya berjaya kerana pensil 2B…” ujar Hakimi merujuk kepada kata-kata Amalina dalam iklan syarikat pensil itu. Amalina, pelajar terbaik kebangsaan beberapa tahun lalu diambil menjadi duta pensil steadler 2B.
“maksudnya?”
“orang yang ada asas agama, akan berada di landasan yang betul,Pak Ngah. Kalau jadi engineer, engineer yang bertaqwa, itu kan lebih baik daripada engineer yang rasuah, songlap duit kontrak…orang yang ada asas ilmu agama, akan melahirkan gerak kerja yang baik dan diberkati serta mendapat pertolongan ALLAH”
Pak Ngah Dali mengangguk.
“Tapi kerajaan kita ni macam tak mahu iktiraf pendidikan aliran agama sebagai pendidikan yang lebik baik dari sistem arus perdana yang ada la ni… kejayaan pelajar sekolah agama macam nak disembunyikan…” bapa Hakimi bersuara semula setelah lama menjadi pendengar.
“Mudah ka nak masuk sekolah agama? kelulusan macamana diterima?”
“sekolah masa saya dulu agak mudah. Sekarang ni, takda 5A UPSR, susah nak masuk. Yang ada 5A pun belum tentu, sebab ada temuduga pula..” Hakimi merujuk sekolah lamanya dulu.
“Mak aiihh… ada interview pulak…” Mak Ngah Rahah bersuara.
“Dahsyat rupanya sekolah agama…” ujar Pak Ngah Dali.
“Kalau Pak Ngah nak lebih jelas pi tengok sendiri, pi la Kota Bharu, tengok sekolah saya dulu. Tak pun Maahad Muhammadi Perempuan, Maahad Tahfiz Pulai Condong, mcm2 lagi… Kat tempat kita, cuba tengok sekolah arab depan tu yang serba kekurangan- ada jugak 5-6 orang dapat 7A ke atas, bandingkan dengan sekolah menengah kebangsaan hujung sana, nak cari sorang dapat 4A pun susah dalam SPM…”
Pak Ngah Dali mengangguk lagi.
Cerita 3
Pak Malik pulang dari majlis bacaan Yasin dan solat hajat, sempena peperiksaan SPM anak keduanya. Majlis tersebut menjemput seorang tok guru dan jemaah dari sebuah pondok pengajian.
“aih… Amin, hang tak pi solat hajat sekali ka tadi?” Pak Malik melihat Amin sedang menggunakan komputer untuk menyiapkan kerjanya.
“solat hajat tu untuk budak-budak SPM saja abah…” ujar Amin. Amin adalah pelajar tahun 3 di sebuah IPT tempatan, yang sedang bercuti pertengahan semester.
“Amin, lain kali kalau ada majlis-majlis macam tu, tak payah nanti orang suruh. Kita pergi saja. Bukan senang nak jumpa majlis yang dalamnya ada alim ulama berhimpun dalam satu keramaian macam tu…” Pak Malik berkhutbah panjang.
Amin memandang Pak Malik. Dia tersengih seolah-olah tiada apa-apa perkataan mampu dijawabnya. Tidak syak lagi kata-kata bapanya itu benar. Dia pernah juga belajar tentang kelebihan berdamping dengan ulama.
“Baiklah abah…”
Kisah 4
“Ha ha ha… kelakar betul si Nabil tu” ketawa Mamat dan Sudin menonton TV, rancangan yang dilakonkan Raja Lawak – Nabil Lu Pikirlah Sendiri.
“Mantap la lawak dia… dengar kata dia nak kawin dengan kekasihnya dua tahun lagi..” Darus mencelah.
Pak Talib yang turut berada di gerai Nasi Lemak Kampung iu menggeleng kepalanya melihat anak-anak muda yang begitu taksub dengan artis.
“hmm… Sudin, Mamat, Darus… apa yang lawak sangat si Nabil tu sampai kamu ketawa macam tu?”
“oh..Pak Talib… ni Raja Lawak yang menang hari tu … mari la join sekali, baru tau lawaknya…” Mamat menjawab selamba.
“Tu bukan Raja Lawak… tu Raja tiga suku… kamu pun layan orang tiga suku tu…” ujar Pak Talib dengan nada sedikit menyindir.
“tiga suku?”
“orang tak betul. tu bukan lawak. Dia buat macam orang terencat akal, kamu kata lawak? Kalau macam P.Ramlee boleh la juga kata lawak. Original. Ni dia buat-buat. Pak Talib nampak macam orang tak betul saja…” terang Pak Talib panjang lebar.
“Nak buat camna Pak Talib. Dah susah nak cari orang macam P.Ramlee. P ramlee tu zaman Pak Talib. Nabil ni zaman kami…” Sudin cuba pertahan artis yang dikatakan Raja Lawak itu.
“Kamu ni… fanatik betul dengan artis. Sampai diorang nak kahwin pun ambil tahu, nak beranak pun ambil tahu… ish ish. Kamu kenal siapa Muhammad al-Fateh?” Pak Talib mencabar.
“Muhammad al-Fateh? “
“Sultan Muhammad al-Fateh pun kamu tak kenal… Dia adalah sultan muda yang berjaya membebaskan kota Konstantinople dari tangan kristian. Usianya belum 20 tahun dah boleh jadi sebaik-baik raja… “
“OoOoo”
“Patut orang muda macam kamu semua ni ambil baginda sebagai contoh. Bukan buang masa buat benda sia-sia…negara kita akan ketandusan pemimpin yang berkaliber pada masa depan jika pada usia muda begini, generasi kamu masih leka dengan hiburan yang melalaikan… ” tegas Pak Talib sambil bangun dan membayar harga nasi lemak dan kopi tarik yang dimakannya kepada Pak Tam Isa.
Ketiga-tiga remaja 20-an tahun itu memandang sahaja Pak Talib melangkah keluar gerai tanpa sebarang kata. Aksi ‘tiga suku’ Nabil di kaca TV tidak lagi dihiraukan. Masing-masing melayan fikiran dan merenung kata-kata Pak talib sambil terkebil-kebil mata mereka.
“Siapa Muhammad al-Fateh…?”
Habis.
p/s: Habis cerita-cerita rekaan… Tak da kerja agaknya duk karang cerita-cerita ni… Apa yang anda faham?

Burung itu sakitkah…?

Seekor burung terbang keriangan. Burung itu meluncur laju di ruang udara. Burung itu bebas ke sini dan sana mengikut kemahuannya. Burung itu bebas melakukan aktiviti rutinnya…. kerana burung itu sihat segala anggotanya.
Malang sekali apabila penyakit-penyakit mula menular. Selsema kiri dan kanan memburunya. Anggota-anggota badannya sakit-sakit. Organ-organnya tidak keruan. Tubuhnya menjadi lemah dan tidak bermaya. Terseliuh pula kepak kanannya. Ia tidak lagi mampu terbang bebas. Ia tidak mampu melakukan aktiviti rutinnya sekalipun ligat dalam kepalanya merancang untuk itu dan ini.
Burung itu lemah dek kerana organ-organ dalamannya tidak keruan. Masing-masing tidak sehaluan. Masing-masing mahu buat kerja sendiri tanpa mahu synchronize dengan rakan-rakan organ lain. Ukhuwwah organ-organ lemah sekali. Sekali pandang, susunan organ nampak cantik. Bila diteropong, baru nampak kecelaruan. Padanlah tubuh si burung itu lemah tidak bermaya. Tidak ke mana ia.
Sudahlah lemah tubuh badannya, sayap kanannya pula terseliuh. Sudahlah terseliuh, tulang-tulang pada sayap kanannya juga tidak sehaluan. Masing-masing tidak mahu bekerjasama. Ada tulang yang mahu sayap kanan itu berfungsi dengan baik, pada masa yang sama ada pula tulang yang enggan dan mudah menunjuk rasa. Alahai tulang-tulang…
Manakala sayap kiri pula nampak gaya macam sihat. Tidak terseliuh. Huh… apalah tulang-tulang sayap kanan buat. Tengoklah sayap kiri. Bila-bila masa saja mahu membawa burung itu kembali terbang girang. Sayap kiri nampak didepakan. Tapi sayap kanan masih terkial-kial. Masih ada masalah dalaman. Masakan si burung dapat terbang dengan hanya sebelah kepaknya? Hebat macamana pun sebelah kepak, burung tak dapat terbang, kerana sunnah burung terbang, menggunakan dua kepak. Tidak dapat juga burung itu terbang jika sebelah kepaknya laju mengibas, sedangkan sebelah lagi perlahan. Dan tidak pula dapat terbang burung itu jika kedua-dua kepaknya mengibas tidak serentak rimanya. Burung itu termenung sendirian.
Si burung merenung dirinya. Merenung anggota tubuhnya. Bermuhasabah organ-organnya. Memandang sayap kiri dan kanannya. Apalah nasib dirinya. Kenapa semua ini terjadi. Ketangkasannya menangkap ikan, menyambar serangga, membelah awan… kini tinggal angan-angan yang tidak kesampaian.
Ah, mungkin si burung itu terfikir, ia berada dalam zon selesa. Makannya jenuh, dunianya ceria. Ia lupa untuk melatih dirinya menjadi lasak. Ia lupa pada latihan untuk dirinya, sehingga organ-organnya berkonflik, tiada wehdatul fikr. Ia enggan dilatih secara keras dan tegas kerana mudah merajuk. Sayap terseliuh itu lambat dirawat sehingga tulang-tulang masing-masing memprotes. Oh burung, sekalipun burung berdiam diri, orang masih dapat melihat yang burung itu sedang sakit…
Akhirnya hingga kini, burung itu masih bertenggek di dahan pokok manggis. Termenung mengenangkan dirinya yang tidak cerdas. Ia terus memikirkan masalah-masalah dalaman organ-organnya, sedangkan burung-burung lain terus riang membentuk kumpulan yang lebih besar membelah awan.
WaLLAHU a’lam…

Kisah raja dengan ikan specialnya…

Suatu hari, seorang raja dalam sebuah negeri keluar bersiar-siar bersama para pembesarnya untuk melihat kehidupan rakyatnya. Mungkin kerana dia mahu dianggap raja berjiwa rakyat, maka dia dan para pembesarnya melawat kawasan pedalaman dalam negerinya itu. Raja itu dikhabarkan oleh para pembesarnya bahawa rakyat negeri itu sangat menyayangi rajanya.
Apabila sampai di sebatang sungai, didapatinya seorang lelaki miskin yang sedang mengail ikan. Dari jauh raja dan para pembesarnya itu memerhati lelaki si pengail ikan itu. Tidak lama selepas itu, kelihatan lelaki itu berjaya mendapat seekor ikan yang besar dan jarang sekali dijumpai. Alangkah gembiranya si lelaki itu, kerana dengan ikan yang besar itu, dapatlah dia berama isteri dan tiga anaknya menikmati rezeki yang lebih pada hari itu. Selalunya, setiap petang dia akan pulang dengan kehampaan kerana hasil tangkapan tiada atau kadang-kadang cukup untuk sekali makan sahaja.
Sedang si pengail itu gembira dan mengucap syukur kepada ALLAH kerana memberi rezeki kepadanya, datanglah rombongan raja negeri itu kepadanya. Sang raja itu amat berminat dengan ikan yang jarang sekali ditemui itu. Lalu raja menitahkan agar ikan itu diserahkan kepadanya. Si pengail miskin itu menolak permintaan rajanya kerana ikan itu adalah rezeki untuk ahli keluarganya makan setelah sepetang berusaha mengail. Raja itu terkejut dengan tindakan pengail itu menolak permintaannya. Sangkaannya, pengail itu akan menyerahkan ikan itu sebagai tanda sayang kepada rajanya. Pantang melihat rakyat menderhaka kepadanya lalu sang raja menitahkan pengawalnya untuk merampas ikan itu daripada pengail miskin itu sebagai balasan menderhaka raja.
Maka pulanglah si pengail itu dalam keadaan hampa. Dia menceritakan peristiwa malang itu kepada isteri dan anak-anaknya. Mereka sekeluarga terpaksa berlapar pada malam itu.
Berbalik kepada cerita sang raja yang membawa balik ikan istimewa itu ke istana. Lalu sang raja menyuruh tukang masak istana menyediakan masakan istimewa daripada ikan tersebut. Maka diperlakukanlah tukang masak itu seperti yang diperintahkan rajanya.
Setibanya waktu santapan malam, raja dan ahli keluarga dirajanya berkumpul dan makan bersama-sama. Ikan istimewa itu siap terhidang sebagai masakan yang paling disukai raja. baru sahaja raja itu mencubit ikan tersebut, jarinya tercucuk dek tulang ikan tersebut. Cepat-cepat raja itu menghisap jarinya yang sakit itu.
Kemudian dicubanya mencubit untuk kali kedua, sekali lagi dia tercucuk oleh tulang ikan tersebut. Cucukan kali keduanya sangat berbisa. Jari raja menjadi sakit seperti disengat binatang berbisa, sehingga dia hilang selera makan malam itu.
Masa terus berlalu. Malam sudah mahu menjengah pagi. Kesakitan pada jari raja itu sudah melarat hingga ke tangannya. Semalaman dia tidak dapat tidur keranan menahan sakit. Akibat tidak tahan dengan kesakitan yang sudah merebak, raja itu menitahkan tabib-tabib diraja untuk mengubatinya. Malangnya semua tabib tersebut gagal mengenalpasti puncanya, kerana ikan tersebut bukanlah ikan yang beracun. Tiada dalam ilmu tabib-tabib itu cara untuk menyembuhkan penyakit raja yang tidak diketahui puncanya.
Raja itu tidak berputus asa. Dia menitahkan sesiapa yang dapat menyembuhkan penyakit anehnya itu, maka dia akan mengganjarinya dengan sesuatu. Maka berduyunlah tabib-tabib dalam negeri mencuba nasib. Namun tiada sesiapa pun mampu menyembuhkannya, sehingga kesakitan itu sudah merebak hingga ke pergelangan tangan.
Raja semakin cemas dan tidak senang duduk. Dia terseksa kesakitan. Tabib demi tabib berusaha mengubatinya, namun semuanya gagal. Sehinggalah penyakit itu sudah hampir ke paras sikunya, seorang daripada rakyatnya membawa seorang ulama yang dikatakan mampu merawatnya. Raja itu gembira mendengar perkhabaran itu dan berjanji akan memberi ganjaran yang lumayan kepada ulama itu sekiranya berjaya menyembuhkan penyakitnya.
Malangnya, ulama itu memberitahu raja itu bahawa, penderitaan raja itu bukanlah penyakit biasa yang dapat disembuhkan. Raja harus memotong tangannya agar penyakit itu tidak merebak menjadi lebih parah.
Mendengar penjelasan ulama itu, raja bersetuju untuk tangannya dipotong. Maka terpotonglah tangan raja itu dengan selamatnya.
Kemudian raja itu bertanya tentang penyakitnya itu kepada ulama tersebut.
“Dari manaka tuanku mendapatkan ikan tersebut” tanya ulama itu kepada Raja.
“dari seorang pengail ikan yang miskin” Raja itu menceritakan cara dia mendapatkan ikan tersebut.
“Kalau begitu, panggillah pengail ikan itu ke sini sekarang juga” ulama itu memberitahu raja.
Lalu raja menitahkan wakilnya memanggil pengail itu ke istana.
Apabila pengail itu masuk mengadap raja, pengail itu sedikit terkejut melihat tangan raja sudah terpotong.
“SubhanaLLAH” spontan bibirnya bertasbih kepada ALLAH.
“wahai pengail yang mulia, apakah yang telah engkau lakukan sehingga Rajamu dipotong tangannya?” ulama itu bertanya kepada pengail.
Pengail itu terdiam seketika dan kemudian bersuara.
” Aku tidak berbuat apa-apa kepada tuanku. Setelah ikan itu dirampas oleh tuanku, aku pulang ke rumah dalam keadaan hampa. Aku berduka-cita dengan apa yang berlaku. Sekiranya pencuri mencuri ikan ku, akan ku adu kepada Rajaku. tetapi apalah daya aku jika raja yang mencuri ikanku, melainkan sepajang malam aku menangis mengadu kepada Tuhanku ALLAH yang Maha mendengar pengaduan hamba-hamba-Nya yang mengadu…”
Mendengar begitu, raja itu tunduk dan menyesali perbuatannya yang menzalimi rakyatnya sendiri. Ulama itu memberitahu raja itu bahawa penyakit itu bukanlah penyakit biasa, tetapi adalah doa orang-orang yang dizalimi, yang tiada sekatan antaranya dengan ALLAH. Berwaspadalah dengan doa orang yang dizalimi.
Hadis riwayat Muaz ra., RasuluLLAH bersabda :
“…Dan takutlah engkau dari doa orang yang dizalimi, kerana doa itu tidak
ada sekatan dengan Allah Taala.” (Shahih Muslim No.27)