Sembang: ALLAH memberi tazkirah kepadaku

Baru tiga hari menziarahi datuk saudara yang meninggal dunia di rumahnya, tengah hari semalam aku dikhabarkan pula dengan kematian adik sepupuku, akibat lemas dalam lopak air, di kampung yang sama, Kampung Pantai Prai, Sg Petani. Adik sepupuku yang dipanggil mesra sebagai ‘Cik’ baru berusia 8 tahun. Dia adalah anak kembar kepada Maksu, ibu saudaraku. Baru dua hari sebelumnya aku lihat gelagat-gelagatnya ketika menziarahi datuk saudara aku (yang juga datuk saudaranya)yang meninggal dunia.
Kematian dua orang yang dekat pertaliannya dengan aku membuatkan aku rasa seperti diberi peringatan oleh ALLAH. Ketika datuk saudaraku meninggal dunia, tergetus dalam hatiku nahawa mati itu pasti. Tok Tam (panggilan mesranya) pergi dulu mengadap-Nya.
Seperti biasa apabila melihat orang tua meninggal dunia, ada satu kata-kata di suatu sudut di lobus hati bahawa ‘biasalah, dia sudah tua’. Aku cuba memadam kata-kata itu dengan beristighfar. Mati itu tidak kira tua atau muda. Aku yakin dengan perkara itu, tetapi iblis sentiasa berbisik hal-hal untuk mengaburi manusia. Tidak hairan berapa ramai manusia yang melihat orang mati, tetapi masih tidak bersedia untuk mati, seolah-olah mereka tidak akan mati seperti si mati.
Tiga hari sahaja berlalu, berita kematian adik sepupuku benar-benar membidas suara sumbang di sudut hatiku itu. Anak kecil juga bisa mati. Mati itu tidak mengira umur, tua atau muda! ALLAH memberi tazkirah yang cukup tegas kepadaku melalui peristiwa ini.
InnaliLLAHi wa inna ilaiHi roj’ouun…
‘Cik’ sudah pergi. Tinggallah adik kembarnya bersama seorang abang dan seorang kakaknya sedang dia bersemadi di sebelah kubur Tok Tam.
Semoga ALLAH mengampuni dan mencurahi rahmat-Nya kepada Tok Tam.
Semoga adik Cik aman bersemadi di sana dan moga-moga menjadi rahmat kepada ayah dan ibunya. Pak Su dan Mak Su, bersabarlah, insyaALLAH anakmu itu akan menarik tangan kalian ke pintu syurga.
Tok Tam [14 Zulhijjah 1431]
Cik [17 Zulhijjah 1431]
Advertisements

Gunung berapi pernah memusnahkan tamadun Pompeii

Tragedi letusan Gunung Merapi mengingatkan kita tentang bala kemusnahan yang ditimpakan ke atas kaum-kaum yang melampaui batas. Saksikan video dokumentari kemusnahan Kota Pompeii akibat lgunung berapi yang hampir 2000 tahun tidak aktif tiba-tiba meletus, atas perintah ALLAH bagi memusnahkan kaum yang melampaui batas. Tidak mustahil bagi ALLAH untuk menjadikan Gunung Jerai meletus jika penduduk Kedah ingkar dan melampaui batas. Tidak pelik jika gunung-gunung di tanah tinggi Cameron dan Genting bertukar menjadi gunung berapi, meletup jika penghuninya yang sering melakukan maksiat. Renung-renungkan…

Al-qur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):
“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al-Faathir, 35:42-43).
Begitulah, “…sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah…”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.
Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.
Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.
Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.
Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.
Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?
Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:
“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)
Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:
“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”
Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.
Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik-distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

Nak menang? Tengoklah sekeliling kita…

Note: Tak tau nak bagi tajuk apa…

Pilihanraya kecil Hulu Selangor dah berlalu. ‘Kekalahan’ sekutu kita dalam ‘perang’ kecil itu memberi isyarat bahawa gerak kerja kita sememangnya perlu dipertingkatkan lagi. Dalam keadaan ‘perang’ reda begini, para ahli gerakan, para pejuang kebenaran dan para daei mestilah kembali membina kekuatan sebelum tiba ‘peperangan’ seterusnya.

Parti Islam sememangnya memerlukan kader-kader yang cekal, gigih dan ikhlas berjuang bagi mengislamisasikan masyarakat, suasana serta sistem-sistem yang ada dalam negara. Sasaran yang begitu besar dan sukar itu tidak akan dapat direalisasi jika kita sendiri tidak memulakannya. Kitalah yang perlu menjadi kader-kader itu. Kitalah yang mesti menjadi daei itu.
Selaku daei dan ahli gerakan Islam, kita perlu memahami bahawa selangkah kita mengintima’ diri dalam perjuangan, maka seribu mehnah dan tribulasi akan mengarah kepada kita. Kesusahah, kesukaran, penentangan, ugutan, ketakutan, kemalasan, dan sebagainya akan terus datang sebagai ujian demi ujian bagi menapis tahap kelasakan zahir, mental, akal dan keimanan kita. Semakin tinggi darjah keimanan dan ketaqwaan seseorang, semakin tinggi pula tahap ujian yang bakal ditempuhinya. Ujian tidak akan terhenti walaupun seseorang itu sudah mencapai tahap keimanan yang tinggi. Bahkah ia akan menghadapi pula ujian yang lebih besar. Markah dan kualifikasi terhadap amalan, keimanan, kesabaran dan keikhlasannya akan diperoleh pada hari yang telah dijanjikan kepada kita semua.
Siri ujian yang kita akan hadapi adalah dari pelbagai rupa dan keadaan. Antaranya adalah tentangan dari luar, konflik dalaman, persepsi negatif masyarakat, karenah ahli gerakan yang pelbagai, konflik dengan rakan sekutu dan sebagainya. Parti Islam pasti sedang dan akan berdepan semua perkara ini. Kebijaksanaan pimpinan mengatur strategi, kepatuhan dan wala’ ahli terhadap pimpinan, keikhlasan setiap kader-kader dakwah akan menentukan mobilisasi gerakan Islam yang dipelopori oleh Parti Islam mengharungi segala ujian, mehnah dan tribulasi dalam perjuangan.
Dalam menjalani kehidupan sebagai daei, kita tidak akan terlepas daripada berdepan dengan pelbagai rupabentuk manusia di sekeliling kita. Ada yang berbentuk ‘pengipas’, ada yang menjadi ‘penampar’, ada yang cuba menjadi ‘ubat’, ada pula yang tidak mahu menjadi apa-apa. Maka para daei dan ahli gerakan Islam mestilah berdepan jenis-jenis manusia ini dengan penuh kesabaran.
Jika berdepan dengan golongan pengampu, maka bersabarlah dengan sikap mereka. Jika berdepan pula dengan golongan yang suka mengkritik, bersabarlah dengan kritikan mereka dan jadilah orang yang bijaksana dalam menerima kritikan. Jika bertemu dengan golongan yang jenis ‘ubat’, yakni orang yang sentiasa menasihati, yang menyokong kebenaran dan seumpamanya, hendaklah kita bersabar bagi menjaga hatinya agar dia tidak terbeban dengan sikap kita. Jika bertemu dengan si dungu yang keras kepala, biarkan dia dengan kepalanya yang keras, tetapi jika bertemu si dungu yang lembut hatinya, jangan pula ditinggalkan dia. Bimbangilah golongan cerdik yang berkepentingan, kerana yang kita dambakan adalah golongan cerdik yang ikhlas berjuang kerana ALLAH dan Rasul-Nya.
Sikap diri sendiri seseorang ahli gerakan Islam mestilah berbeza dengan golongan yang menentang Islam itu sendiri, samada golongan yang menentang Islam itu adalah ulama-us-su~’ (ulama jahat), pemimpin sekular, orang-orang Islam yang hasad, orang-orang munafiq, golongan kuffar, puak-puak rasis dan seangkatan dengannya. Akhlak Islamiyyah perlu kita hadam dan amalkan dalam kehidupan kita sebagai pejuang agama ALLAH.
Pasca PRU12 memperlihatkan kepada kita betapa ramainya berpusing meninggalkan parti pemerintah, menyertai parti yang belum memerintah. Tidak kurang juga yang mendaftar sebagai ahli parti Islam. Kemasukan mereka yang berfikrah lawan, pasti mewujudkan pertembungan budaya berfikir dan akhlak dalam jemaah. Mereka ini perlu dididik dan ditarbiyah dengan akhlak Islamiyyah yang syumul. Mereka perlu difahamkan dengan kefahaman jemaah dan gerakan Islam. Kita perlu bersabar dalam mentarbiyah mereka kerana sebahagian daripada mereka datang dari ‘tarbiyah’ songsang parti lama mereka.
Tarbiyah memerlukan masa yang panjang, kesungguhan dan keikhlasan. Mentarbiyah mereka adalah satu bentuk ujian dan tamrin kepada kita disamping kita juga terus-menerus mentarbiyah ahli sedia ada serta diri kita sendiri. Daei perlulah mengutamakan dakwah dan tarbiyah. Maka seseorang daei tidak wajar mengutamakan perut sendiri.
Kita mahu menang sebagaimana kemenangan Rasul semasa Fathu Makkah. Kita mahu berjaya sebagaimana Al-Fateh di Constantinople. Kemenangan yang sememangnya menang, yang tidak dipertikai dan tidak mudah digoyah. Kemenangan yang tidak masak, akan mendatangkan masalah dan fitnah kepada kita kembali. Ramuan untuk kemenangan yang gemilang adalah tarbiyah yang sempurna, yang melahirkan pemimpin yang baik, kader-kader yang baik serta ahli-ahli yang baik.
Sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik ahli akan menjadikan Parti Islam digeruni lawan, dihormati dan disegani rakan-rakan sekutu. Namun ada yang mengatakan semua ini adalah idealistik. Ya, memang idealistik semata-mata. Inilah satu-satunya perkara idealistik yang telah pun direalisasikan oleh RasuluLLAH S.A.W, Sultan Muhammad al-Fateh dan nama-nama besar di zaman mereka.
Kita juga mahukan keadaan sedemikian. Namun kita perlu sedar, pada awal gerakan Islam RasuluLLAH tidaklah idealistik sebagaimana waktu Fathul Makkah. RasuluLLAH menghadapi ujian, mehnah dan tribulasi yang sangat dahsyat. Baginda dimaki, dicerca, diugut bunuh, dikhianati, difitnah dan sebagainya. Walau dahsyat ujian ketika awal perjuangannya, baginda tidak terus menggembeling kader-kadernya ketika itu untuk melakukan ‘Fathu Makkah’, walhal baginda boleh sahaja mendoakan agar ALLAH berikan kejayaan ketika itu -boleh tercatat dalam sejarah Fathu Makkah tanpa perlu berhijrah ke Madinah. Tetapi tidak begitu. RasuluLLAH memulakan dakwah baginda dengan ketidak-idealan, merencana dakwah sehinggalah membentuk kader-kader yang terbaik, lalu ALLAH mengizinkan Fathu Makkah.
Bagaimana jika Fathu Makkah berlaku tanpa perlu melalui kesukaran dakwah, tanpa melalui peristiwa hijrah, tanpa melalui perang badar-uhud-khandak, tanpa melalui perjanjian hudaibiyah, tanpa melalui persitiwa bi’ru ma’unah, tanpa menghadapi orang-orang munafiq dan Yahudi, dan sebagainya? Ya, kesemua susah-payah onak duri perjuangan RasuluLLAH adalah tarbiyah kepada baginda dan para sahabat sebelum diberikan kemenangan yang sebenar-benarnya masak.
Dengan itu, marilah kita renung tulisan yang terpusing-pusing isi pentingnya ini. Apa yang baik ambillah pengajaran darinya. Abaikan jika tulisan ini buruk isi kandungannya, kerana kelemahan penulis mengolahnya. Mudah-mudahan sedikit catatan ini diberi ganjaran oleh ALLAH.
WaLLAHU a’lam.

Naskhah buat bakal pimpinan…

Menjadi pemimpin, adalah lumrah dan menjadi kitaran dalam hidup. Ada kala kita menjadi pemimpin, ada ketikanya pula kita menjadi ahli bawahan.

Orang yang dilantik menjadi pemimpin harus ingat bahawa, ALLAH sedang mengujinya dengan amanah. Jika dapat dipikul dan dilaksanakan haknya sebagai seorang pemimpin, maka dia berjaya dalam ujian tersebut. Amanah bukanlah barang yang boleh dibuat seronok-seronok, kerana kelak akan dipersoalkan. Amanah memimpin itu tidak pula boleh suka-suka hati ditolak, ketika tiada orang lain yang boleh melaksanakannya. Kamu akan ditanya pula kenapa kamu menolaknya.

Perlu diingat, sesiapa yang dipilih menjadi pemimpin bukan bermakna dirinya semua tahu. Seseorang dipilih menjadi pemimpin pada zaman ini mungkin hanya kerana kelebihan tertentu saja. Jadi, mereka perlu tawaduk dan merendah diri dalam semua tindakan. Mereka perlu menjadikan kecemerlangan pimpinan terdahulu sebagai panduan, mengambil kepincangan lalu sebagai peringatan agar tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama.

Janganlah takut dan gundah-gulana apabila dilantik menjadi pemimpin. Sesungguhnya yakinlah bahawa ALLAH akan membantu sesiapa sahaja yang dipilih-Nya serta memohon pertolongan-Nya. ALLAH tidak memberati seseorang itu dengan sesuatu yang dia tidak mampu menanggungnya. Yakinlah dengan pertolongan ALLAH.

Jangan pula berlebihan melobi untuk merebut jawatan. Sesungguhnya jika manusia itu tahu akan beratnya amanah pemimpin itu, nescaya mereka akan lari dari pada merebutnya.

Hebatnya peribadi seseorang pemimpin itu adalah menolak ketika ramai orang merebut sesuatu jawatan, dan menawar diri serta tidak lari ketika ramai mengelak darinya.

Selamat Ber……………………..

WaLLHU a’lam…

Haiti berkabung, umat lain masih tidak mengambil pengajaran

InnaliLLAH…
Mungkin 500,000 maut di Haiti akibat gempa bumi dahsyat. Bagaikan dahsyatnya Tsunami yang melanda Asia beberapa tahun lalu.
Manusia sehingga hari ini, dengan ilmu sains yang dimiliki, tidak mampu menghurai, mengapa bumi semakin ‘mengganas’ sejak akhir-akhir ini, sehingga menyebabkan manusia kehilangan nyawa secara besar-besaran. Tiada sebarang penjelasan yang muktamad untuk diambil tindakan bagi ‘menjinakkan’ semula bumi. Hanya kedengaran manusia menyalahkan tindakan mereka sendiri. Akibat tangan-tangan manusia yang rakus, bumi menjadi ‘marah’ dan tidak keruan. Kehebatan ilmu sains manusia setakat itu sahaja. Hanya mampu menganalisis secebis rahsia mengapa keadaan bumi hari ini jadi begitu.
Kemusnahan sesuatu kaum adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Bukan mahu menuduh apa-apa kepada masyarakat Haiti, tetapi ALLAH telah jelaskan bahawa zahirnya kemusnahan darat dan di laut adalah hasil kerja tangan-tangan manusia. Kerja yang songsang dan dan melawan fitrah alam, serta menyimpang dari ajaran ALLAH, maka bumi bergoncang sebagai tanda amaran dari ALLAH. Namun manusia yang masih hidup, tetap melakukan perkara kerosakan yang sama dan tidak mengambil pengajaran dari kemusnahan-kemusnahan umat terdahulu. Sedangkan seekor haiwan akan menjauhi perkara yang menyebabkan ‘saudaranya’ binasa. Tidak pula bagi manusia, kerana manusia itu degil dan angkuh halnya.
WaLLAHU a’lam…

Hijratur-Rasul mengubah iklim dunia!

Oleh: IbnuQuddus


1 Muharram 1431.
Tarikh ini mungkin ramai yang ingat, sama seperti tarikh 1 Ramadhan dan 1 Syawal setiap tahun. Tarikh-tarikh Hijri yang lain sukar untuk semua orang ingat. Sepatutnya umat Islam tidak mudah melupai tarikh Hijri. Tapi dek kerana sistem negara kita tidak bersungguh-sungguh mengadaptasikan tarikh Hijri, akhirnya hanya beberapa tarikh penting sahaja diingati. Jika negara kita melaksanakan sistem tarikh mengikut perkiraan Hijri, banyak kelebihan yang kita akan peroleh.
Berbalik kepada sambutan awal Muharram. Selalu kita sebut sambutan maal Hijrah. Ada apa dengan maal Hijrah? Setiap tahun cara sambutannya sama. Perarakan sana-sini. Ada tokoh maal Hijrah pulak. Tiada pembaharuan, atau lebih jelas lagi, tiada apa-apa ruh Hijrah yang dapat masyarakat terutama umat Islam dapat ambil berdasarkan cara sambutan yang kita lihat hari ini.
Berarak… gimik sahajakah?
Jika gimik, tentu hanya membazir wang dan masa! [Gambar Hiasan]
Ada pula pihak yang tidak suka sambutan maal Hijrah. Bid’ah katanya. Nabi tak sambut. Isu bid’ah tak bid’ah adalah soal yang tak perlu difokus. Tidak penting, berbanding menjaga kesatuan ummah. Perkara yang kita perlu fokus adalah bagaimana memanipulasi konsep Hijrah ini untuk menyedarkan umat yang masih lena nyenyak sekalipun musuh sudah mengebom sana sini dengan bom-bom fizikal dan minda, secara bom berangkai dan juga bom-jangka. Serangan pemikiran bertubi-tubi mengasak dan menerjah ruang kepala otak seterusnya mengikis dan melapah iman-iman umat Islam.
Sambutan maal Hijrah sudah tidak relevan jika perkara yang sama diteruskan setiap tahun. Sia-sia, menghabiskan wang sahaja. Ceramah sana sini, apa pun tiada, kerana ruh Hijrah tidak ditekan. Setiap ceramah hanya berkisar tentang perlunya berhijrah dari jahat ke baik, baik kepada lebih baik. Walhal, untuk memberi kesedaran perlu kepada pemahaman yang lebih mengenai peristiwa hijrah itu sendiri. Umat Islam, terutama generasi muda tidak diberi penghayatan Hijrah sebenar.
Penghayatan hijrah perlu diubah daripada sambutan maal hijrah kepada penghayatan Hijratur-rasul (Hijrah Rasul). ‘Maal hijrah’ dihurai macam-macam sehingga ada yang lari dari konteks Hijrah Rasul, dn kadang-dang huraiannya tiada kena mengena langsung dengan ruh senebar hijrah RasuluLLAH. Generasi muda perlu difahamkan dengan sirah Hijratur-rasul yang tulen. Kegagalan memahami peristiwa Hijratur-Rasul adalah punca sambutan tahun baru Hijri menjadi hambar dan sia-sia.
Dalam persitiwa Hijratur-Rasul, kita perlu memahami bagaimana RasuluLLAH membina karekter-karekter sahabat baginda sehingga menjadi suatu kominiti yang disegani kawan dan digeruni lawan. Lihat bagaimana watak seorang anak muda diasuh menjadi berani mempertahankan nyawa RasuluLLAH. Lihat jua bagaimana pembinaan watak seorang lelaki yang sanggup menemani RasuluLLAH dalam keadaan bahaya dan cemas. Bagaimana pula RasuluLLAH membina karekter seorang wanita yang gigih dan sanggup menghabiskan harta benda untuk perjuangan agama ALLAH. Dan pelbagai lagi contoh karekter para sahabat yang luar biasa kecekalan imannya, serta kesungguhan mereka mempertahankan agama ALLAH dan Rasul-Nya.
Komuniti Muhajirin yang luar biasa iltizam jihad mereka berjaya dibentuk oleh RasulaLLAH, disambut pula oleh golongan Ansar, yang sangat luar biasa pengorbanan mereka membantu dan bersama-sama saudara mereka dari golongan Muhajirin. Gandingan Muhajirin dan Ansar adalah gandingan yang sangat menakjubkan hasil daripada peristiwa Hijratur-Rasul, yang sepatutnya kita berusaha mengadaptasinya dalam kehidupan kita. Penghayatan Hijratur-Rasul perlu ke arah membentuk watak-watak Muhajirin dan Ansar. Bukan sekadar ceramah dan khutbah mengisi program-program tahunan, atau semata-mata mengejar KPI sahaja. Perlu ada satu bentuk modul peringkat nasional yang bersungguh-sungguh menghasilkan karekter Muhajirin dan Ansar pada zaman ini.
Hijratur-Rasul juga adalah adalah konsep yang sangat mengagumkan ke arah pembentukan masyarakat yang bersatu. Peristiwa Hijrah telah menunjukkan bagaimana tembok pemisah perkauman dan kenegerian dimusnahkan. Suku Aus dan Khazraj yang sentiasa bertelagah dan rasis berjaya disatukan menjadi satu entiti Ansar, yang membantu pula kaum Muhajirin yang datang dari Mekah dengan rela hati. Dalam masyarakat majmuk di negara kita hari ini, pihak pemerintah perlu membentuk modul ke arah kesatuan rakyat berbilang kaum, menggunakan kaedah sebagaimana RasuluLLAH menyatukan Muhajirin dan Ansar, serta strategi RasuluLLAH meraikan pula golongan Yahudi di Madinah. Kerajaan Islam Madinah di bawah pimpinan RasuluLLAH menjadi semakin stabil dan kuat.
Ahli-ahli akademik, tokoh-tokoh pemikir seharusnya memulakan usaha brainstorm seterusnya berbincang untuk membawa masyarakat berbilang kaum dalam negara bersatu, bukannya memainkan isu-isu perkauman dan agama yang boleh memudaratkan perpaduan masyarakat dalam negara. Bukannya membiarkan pemerintah melakukan pembaziran menjalankan aktiviti maal hijrah sedia ada tanpa output yang memberansangkan.
Hijratur-Rasul adalah salah satu titik penting perubahan iklim dunia, daripada kegelapan Jahiyyah, kepada iklim nur hidayah. Justeru Hijratur-Rasul seboleh-bolehnya perlu umat Islam fahami, disamping masyarakat bukan Islam juga mengetahui peristiwa sebenar Hijratur-Rasul. Hijratur-Rasul bukan sahaja mengubah dunia umat Islam, bahkan turut memberi kesejahteraan kepada masyarakat bukan Islam. Islam adalah untuk semua manusia, tak kira apa jua bangsa, atau apa agamanya, atau dari mana dia, atau apa statusnya. Nabi Muhammad S.A.W adalah nabi akhir zaman yang diutus untuk umat manusia, bukan hanya kepada umat Islam, bahkan termasuk jua orang bukan Islam, haiwan-haiwan, tumbuh-tumbuhan dan seluruh hidupan dan alam cakerawala. Oleh itu, pemahaman tentang Hijratur-Rasul juga perlu diolah supaya masyarakat bukan Islam jua memahami intipati sebenarnya.
Banyak lagi huraian mengenai hijratur-Rasul yang perlu dicungkil semula setelah sekian lama dipendam oleh cara sambutan yang tidak bersifat membina. para ilmuan, alim-ulama, profesional, pemimpin dan semua lapisan masyarakat perlu bergerak dan digerakkan. Sudahlah. usah lagi sambutan Hijrah disambut hanya dengan pukulan kompang, berzanji, bernasyid, berazam tahun baru dan berarak semata-mata bagaikan meraikan kanak-kanak berkhatan. Tiada langsung kaedah pendidikan membina masyarakat, sedangkan Hijratur-Rasul itu adalah peristiwa yang besar.
Apakah penghayatan berkompang ini memberi
kefahaman tentang sirah Hijratur-Rasul? [Gambar Hiasan]

Hijratur-Rasul adalah titik perubahan iklim dunia, daripada kegelapan jahiliyyah, kepada cahaya keimanan dan kemajuan.
WaLLAHU a’lam…
p/s: maaf jika isi-isinya berteraboq…

Sembang: Ziarah orang tua-tua

Hampir setiap hujung minggu, jika balik saja ke kampung, aktiviti ku adalah menziarahi orang tua-tua, orang sakit, kenduri kendara, dan sekali-sekala beramah mesra dengan adik beradik.
Kelmarin, aktiviti biasa – menziarahi tok nek (moyang) sebelah ayah.
Ziarah, bukan saja-saja membuang masa sepert yang sesetengah orang anggap. Apatah lagi orang-orang tua yang ada hubungan kekeluargaan. Apatah lagi moyang kita. Tanpa mewujudkan moyangku ini, tiadalah nenekku, tiadalah ayahku, dan tidak akan wujud diri aku. Moyangku yang berusia anggaran lebih 100 tahun ini sudah tidak mampu berdiri dan berjalan seperti setahun dua lalu. Akan tetapi dia masih boleh diajak berbual, bergurau senda. Malah kadang-kadang boleh juga dia menceritakan kisah-kisah masa muda. ‘Kelolong’ pun boleh tahan…
Tok Nek sedang mengatakan sesuatu
Pada hari yang sama, kami sempat juga menziarahi Tok Cik Umar, adik nenek sebelah ibu. Nenekku ini umurnya kurang lebih 90 tahun. Doktor homopati pun kagum dengan kecergasan nenek yang aku panggil Tok Teh (Namanya Puteh). Pada usia begitu dia masih cergas, tiada sindrom-sindrom penyakit. Manakala adiknya -Tok Cik Umar juga sihat tubuh badan, cuma mengalami Azhemier, atau penyakit lupa yang serius.
Lupa semuanya. Hatta kakak dan anaknya sendiri pun tidak mampu diingati.
“Umaq… hang ingat dak kat mak?” tanya Tok Teh kepada adiknya.
“cuba tanya depa…” Tok Cik Umaq ‘bijak’ sekali mengelak daripada menjawab.
“Pak Cik, abang Pak Cik nama apa?” ibuku bertanya.
“Wahab… Dolah… Sulaiman..”
“kakak Pak Cik, ingat?”
“ada ka? nama apa?”
“Puteh”
“Puteh…? Tak dak nama Puteh…”
Nenek tersenyum melihat adiknya. Dia hanya ingat sikit-sikit nama kampung asalnya, nama abang-abangnya. Bila berbual saja, dia akan bertanya siapa kita, dari mana. Akan diulangnya perkara yang sama. Jika tiada apa yang hendak dibualkan, terbitlah beberapa perkataan zikir… “Ya Hayyum… Ya Qayyum… Ya Badi’ussama-wa-ti wal-ArDh, Ya zalJalali wal-ikram…”
“Ya Hannan… Ya Mannan… “
AstaghfiruLLAHah a’zheem… itulah zikir yang bermain dimulutnya sebelum mengalami penyakit ini. ALLAH kekalkan zikir itu padanya ketika semua ingatannya hilang. Ketika itu aku termenung seketika. Apakah zikir kita yang selalu kita ucapkan? Atau lidah kita dibasahi dengan lagu-lagu yang melalaikan? Paling teruk, alangkah malangnya jika lidah kita sering berkata-kata nista dan dosa. Jika kita ditakdir mengalami nasib yang sama- hilang ingatan, betapa malangnya kita lidah kita sering terus berkata nista, Na’udzubiLLAH…
Bab solat pula, memang dia sudah tidak dapat membezakan waktu solat. Dia akan bersolat bila-bila masa sahaja. Jika sudah solat, kemudian dia terlupa, dia akan solat lagi. Jika lupa lagi, dia akan berdiri untuk solat lagi. Zohor pun pernah dua-tiga kali satu hari.

Seorang kakak memerhati adiknya dengan penuh kasih sayang…

Walaupun demikian keadaanya, Tok Cik Umar masih mampu melayan tetamunya dengan ramah mesra, walaupun tetamu-tetamu itu ‘tidak dikenalinya’…

Tok Nek, tok teh, Tok Cik Umar… mereka pernah mengalami zaman muda mereka. Mereka tidak pernah terfikir mereka akan berada dalam keadaan sekarang. Dalam keadaan ramai sahabat handai mereka semasa muda dahulu, kini telah tiada. Mereka hanya tumpang gembira bersama anak cucu. Mereka sudah berada di zaman yang bukan lagi zaman mereka.
Ziarah orang-orang tua begini, bukanlah sesuatu yang sia-sia. Kita boleh mengambil pengajaran yang banyak darinya sebagai panduan hidup kita. Kita tidak kekal muda dan gagah perkasa. Jika tidak mati awal, kita akan dikunjungi hari tua kita. Saat itu kita hanya mampu mengimbau kenangan masa muda yang tidak dapat diperoleh kembali, sampai bila-bila.
Baik amalan masa muda kita, itulah amalan kita. Masa tua adalah bonus, sedangkan kualiti amalan adalah semasa muda. Jika sia-sia amalan semasa muda, rugilah, kerana amalan masa tua tidak sama kualitinya.
Ingatlah kita akan nasihat ini:
muda sebelum tua
WaLLAHU a’lam…